Press Release

Jakarta, 11 Desember 2020

Hadapi Krisis Iklim, Akselerasi Transisi Energi di Indonesia Dengan Berkolaborasi Antar Negara Bisa Jadi Solusi

Pemerintah Indonesia masih menemui sejumlah tantangan dalam mitigasi fenomena perubahan iklim dan mendukung industri energi terbarukan. Mengatasi masalah tersebut, pemerintah perlu berkolaborasi dengan negara lain di Asia Tenggara.

Project Officer Agora Energiewende, Mentari Pujanto dalam sebuah riset yang diluncurkan oleh Agora Energiewende memaparkan bahwa negara-negara di dunia sudah memprediksi bahwa persediaan batu bara di bumi akan semakin menyusut 30 hingga 40 tahun mendatang.

“Oleh karena itu pemerintah perlu menetapkan kebijakan strategis untuk mendukung transisi energi terbarukan di Indonesia. Pemerintah juga perlu membatasi pembangunan PLTU untuk mengurangi potensi aset mangkrak di masa depan,” kata Mentari, Jumat (11/12/2020) dalam diskusi panel Indonesia Energy Transition Dialogue (IETD) 2020.

Dalam hari terakhir IETD 2020 itu dipaparkan bahwa perkembangan transisi energi terbarukan di sejumlah negara Asia Tenggara mengalami tantangan yang serupa dengan Indonesia. Terutama dalam hal kebijakan pemerintah yang belum sepenuhnya berpihak pada iklim investasi energi terbarukan yang memadai.

Eksekutif Direktur Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa mengatakan IETD 2020 banyak membahas tentang rekomendasi strategi kebijakan pemerintah di bidang energi terbarukan untuk melakukan pemulihan ekonomi pasca Covid-19 secara berkelanjutan.

IETD 2020 juga mengundang beberapa penasihat energi terbarukan dari negara-negara Asia Tenggara. Kesimpulannya negara-negara di Asia Tenggara perlu mengadakan kerjasama dan kolaborasi riset energi terbarukan.

Transparansi Informasi dan data tentang proses transisi energi di Indonesia

Dalam kesempatan yang sama, demi menjembatani kesadaran publik akan pentingnya proses transisi energi di Indonesia dan memahami langkah - langkah apa saja yang harus dan perlu dilakukan oleh para pemangku kebijakan, IESR memfasilitasi ketimpangan tersebut tersebut dengan meluncurkan portal transisienergi.id sebagai pusat data, informasi dan ilmu pengetahuan mengenai transisi energi di Indonesia.

Manajer Program Transisi Energi IESR, Jannata Giwangkara mengatakan transisienergi.id merupakan sebuah platform untuk memudahkan publik dan pemangku kepentingan mendapatkan data yang akurat terkait transisi energi terbarukan.

“Website dilengkapi visualisasi data, daftar istilah, artikel, infografis dan siniar dari sumber - sumber ilmiah yang diolah dan di publikasikan oleh lembaga - lembaga independen dan organisasi masyarakat sipil di Indonesia. Transisienergi.id juga menyediakan fitur jejaring ahli untuk temukan talenta atau pakar di bidangnya, sehingga masyarakat yang fokus pada transisi energi terbarukan bisa kontak langsung dan berjejaring,” kata Jannata.

Jannata mengatakan tujuan peluncuran website ini adalah terjalinnya kolaborasi upaya-upaya transisi energi di level kebijakan. Dengan dukungan data yang akurat dan relevan, harapannya pemerintah dapat lebih jauh mendorong Indonesia ke sistem energi terbarukan rendah karbon.

Karena pandemi juga IETD diselenggarakan secara virtual untuk pertama kalinya. IETD diselenggarakan seminggu dengan total 12 sesi. Di dalamnya ada lebih dari 50 pembicara dan panelis terkemuka dari mancanegara dan nasional, dan diikuti lebih dari 1.450 pengguna secara daring dari seluruh dunia.


Pada sesi pembukaan, Ketua ICEF, Prof. Dr. Kuntoro menyoroti pentingnya menyusun roadmap atau peta jalan transisi energi nasional yang jelas dalam satu hingga dua tahun ke depan sebagai acuan dan pedoman bagi para pemangku kepentingan energi utama. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral secara resmi meluncurkan IETD ke-3 dengan menekankan bahwa energi terbarukan memiliki peran penting, tidak hanya dalam penurunan emisi GRK tetapi juga sebagai bagian dari pemulihan ekonomi hijau dari krisis Covid-19. Pernyataan ini juga dipertegas dan dijabarkan lebih lanjut oleh Wakil Menteri Keuangan dalam keynote speech-nya dan seluruh anggota panel dalam diskusi tingkat tinggi setelah pembukaan dan pada sesi kelima di hari ketiga.

Di hari kedua, IESR terinspirasi oleh cara Yang Seung-jo memimpin transisi energi dari tingkat lokal dengan memelopori proses transisi energi yang adil di provinsi Chungcheongnam-do, Korea Selatan. Perwakilan dari setidaknya tiga daerah di Indonesia kemudian membagikan visi mereka tentang topik tersebut dan memperbarui kemajuan transisi saat ini di setiap provinsi. Di hari yang sama, sesi ketiga menyoroti bagaimana investasi swasta dapat menjadi bagian untuk mendanai pemulihan yang berkelanjutan.

Pada hari Rabu, Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara dan Kepala Riset APAC dari Bloomberg New Energy Finance mengakui bahwa transisi energi global yang sedang berlangsung harus ditanggapi dengan tepat. Dialog lebih lanjut tentang bagaimana Indonesia dapat mewujudkan visi transisi energi menjadi kenyataan dibahas secara khusus di hari keempat.

Negara berkembang seperti Indonesia berada di persimpangan, untuk menentukan sistem energi masa depan. Bersikeras tetap membangun infrastruktur energi fosil akan menjadi kesalahan, karena dalam jangka panjang akan menyebabkan terkuncinya infrastruktur karbon tinggi. Perubahan kebijakan untuk mendukung energi terbarukan dalam rencana pemulihan ekonomi akan menjadi pilihan yang logis. Ini akan menarik investasi energi bersih, menciptakan lapangan kerja baru dan lebih hijau, dan mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) dan polusi udara.

Dalam fase transisi khusus ini, saat kita pulih dari pandemi, kebutuhan energi yang akan datang harus dipenuhi dengan alternatif kompetitif bebas karbon untuk menghindari berbagai dampak bencana perubahan iklim dan mencapai lintasan pembangunan berkelanjutan yang mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Tujuan transformasi jelas, yaitu mempercepat penggunaan energi terbarukan dan mengupayakan langkah-langkah dekarbonisasi mendalam dari semua sektor, dan pada saat yang sama, mempersiapkan tanggapan terhadap dampak transisi. Lebih bijaksana untuk menanggung transisi secepat mungkin untuk meminimalkan potensi kelemahan gangguan dan yang lebih penting, IESR merekomendasikan pembentukan gugus tugas untuk transisi energi.

Terhadap alasan-alasan ini, sekali lagi, seperti yang disebutkan di awal oleh Prof. Kuntoro, ada urgensi untuk terlebih dahulu membangun roadmap transisi energi nasional Indonesia.

Encouraging Renewable Energy Transition, the Government Needs to Collaborate with Southeast Asian Countries

The Indonesian government still faces several challenges in supporting renewable energy industry. To overcome this problem, the government needs to collaborate with other countries in Southeast Asia. For the collaboration to be well-established, the Institute for Essential Services Reform (IESR) facilitates it through the te.id website.

Project Officer of Agora Energiewende's, Mentari Pujanto, in their research explained that many countries in the world have predicted that the world's coal supply will shrink in the next 30 to 40 years.

"Therefore, the government needs to establish strategic policies to support renewable energy transition in Indonesia. The government also needs to limit the construction of PLTUs to reduce stalled assets in the future,” said Mentari, Friday (Dec 11, 2020) in a panel discussion on the Indonesia Energy Transition Dialogue (IETD) 2020.

The last day of IETD 2020 discussed that the development of renewable energy transition in several Southeast Asian countries faced similar challenges to Indonesia. Especially in terms of government policies that have not fully supported adequate renewable energy investment climate.

The Executive Director of the Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, said that the IETD 2020 brought up many recommendations for policy strategies regarding renewable energy. It is urged that the government carry out economic recovery after Covid-19 in a sustainable manner.

IETD 2020 also invited several renewable energy advisers from Southeast Asian countries. In conclusion, countries in Southeast Asia need to cooperate and collaborate on renewable energy research. Therefore, IESR facilitated this collaboration by launching the te.id website.

IESR Energy Transition Program Manager, Jannata Giwangkara, said that te.id is a platform to make obtaining accurate data regarding renewable energy transition easier for the public and stakeholders.

“The website is equipped with data visualizations, articles, infographics and podcasts from renewable energy experts. So that people in this field can have direct contact with the network of energy transition experts," said Egi.

Egi said that the purpose of the website is to establish collaborative efforts on policy level. With the support of accurate and relevant data, it is hoped that the government can further push Indonesia towards a low-carbon renewable energy system.

Due to the pandemic, IETD was held virtually for the first time. It is held for a week with a total of 12 sessions. It included more than 50 prominent speakers and panelists at international and national levels, as well as 1,450 participants from around the world.

In the opening session, the Chair of ICEF, Prof. Dr Kuntoro, highlighted the importance of compiling a clear roadmap of national energy transition in the next one to two years as a reference and guideline for key energy stakeholders. The Minister of Energy and Mineral Resources officially launched the 3rd IETD by emphasizing the important role of renewable energy, not only in reducing GHG emissions but also as part of the green economic recovery from Covid-19 crisis. This statement was also emphasized and further elaborated by the Deputy Minister of Finance in his keynote speech and all panel members in high-level discussions after the opening and the fifth session on the third day.

On the second day, IESR was inspired by the way Yang Seung-jo led energy transition from the local level by pioneering a just energy transition in Chungcheongnam-do. Representatives from at least three regions in Indonesia then shared their vision on the topic and updated the transition progress in each province. On the same day, the third session highlighted how private investment could fund sustainable recovery.

On Wednesday, Deputy Minister of State-Owned Enterprises and APAC Head of Research from Bloomberg New Energy Finance, acknowledged that the ongoing global energy transition must be addressed appropriately. Further dialogue on how Indonesia could make energy transition reality was discussed specifically on the fourth day.

Developing countries like Indonesia are at crossroads to define their future energy systems. Insisting on building fossil-energy infrastructure would be a mistake, since in the long run, it would lock into high-carbon infrastructure. Policy changes to support renewable energy in the economic recovery plan would be a logical choice. This would attract clean energy investments, create new and greener employment, and reduce greenhouse gas (GHG) emissions as well as air pollution.

In this particular transitional phase, as we recover from the pandemic, future energy needs must be met with competitive carbon-free alternatives to avoid the catastrophic effects of climate change and achieve a sustainable development trajectory that encourages higher economic growth.

The aim of the transformation is clear, namely, to accelerate the use of renewable energy and pursue deep decarbonization of all sectors, while at the same time preparing for the impacts. It is wiser to deal with the transition as quickly as possible to minimize the potential drawbacks of the disruption, and more importantly, the IESR recommended creating a task force for energy transition.

In regard to these reasons, again, as mentioned earlier by Prof. Kuntoro, there is an urgency to build a roadmap for Indonesia's national energy transition first and foremost.

IETD is an IESR and ICEF initiative

 

Institute for Essential Services Reform (IESR)

Jl. Tebet Barat Dalam VIII No. 20B, Jakarta Selatan

Indonesia

General Inquiry: icef@iesr.or.id

P. +62 21 - 22323069

©2020 by Indonesia Clean Energy Forum (ICEF) in association with IESR

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • LinkedIn