Media Advisory

Jakarta, 7 Desember 2020

Kerjasama Antar Negara dibutuhkan untuk Tekan Emisi Karbon di Indonesia

Pada 2020 pimpinan seluruh negara menghadiri pertemuan di Glasgow, Inggris untuk memaparkan pencapaian dalam bidang energi baru terbarukan. Pertemuan itu bertujuan untuk mendorong agar pemerintah seluruh dunia melaksanakan tindakan-tindakan yang mengatasi perkembangan iklim.

Namun saat ini dunia menghadapi tantangan dalam mewujudkan penurunan gas rumah kaca. Secara global, seluruh negara tidak bisa menjaga penurunan emisi karbon hingga dua derajat celcius. Saat ini di seluruh dunia ada 2000 GW energi yang dihasilkan dari batu bara. Oleh karena itu untuk mencapai kesepakatan Paris Agreement diperlukan 3 persen pengurangan konsumsi batu bara secara global.

Kontribusi Indonesia dalam mengurangi konsumsi batu bara memiliki kemungkinan positif, sebab Indonesia memiliki potensi mengembangkan energi terbarukan melalui energi terbarukan solar atau matahari. Maka Indonesia dinilai mampu melakukan pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19 dengan ramah lingkungan.

Indonesia memiliki target penurunan emisi karbon sebesar 23 persen pada 2025. Hal itu perlu didukung oleh kebijakan pemerintah yang berpihak pada industri energi baru terbarukan. Sembari menunggu ekosistem kebijakan terbentuk, tahun ini pemerintah juga fokus melakukan sejumlah program untuk berkontribusi terhadap penurunan emisi karbon, misalnya penggunaan bahan bakar ramah lingkungan untuk pembangkit listrik batu bara.

Selain itu pemerintah juga menjalin kerjasama bilateral dengan Inggris dan Jerman untuk pendanaan di bidang energi baru terbarukan. Harapannya kerjasama ini dapat terus berlangsung hingga beberapa tahun ke depan.

Carbon Emission Reduction in Indonesia Requires Cooperation from All Countries

In 2020, the leaders of all countries attended a meeting in Glasgow, UK to explain the development in the field of renewable energy. The meeting aimed to encourage governments around the world to take actions regarding climate changes.

However, the world is facing challenges in reducing greenhouse gases. Globally, all countries cannot maintain a reduction in carbon emissions by 2˚C. There are 2000 GW of energy produced from coal worldwide today. Therefore, to achieve the Paris Agreement, a 3% reduction in global coal consumption is needed.

Indonesia's contribution to reducing coal consumption has a positive possibility since Indonesia has the potential to develop solar as renewable energy. Indonesia is considered capable of carrying out economic recovery post-Covid-19 pandemic in an environmentally friendly manner.

Indonesia has a target of reducing carbon emissions by 23% in 2025. This requires support from government policies that favor the renewable energy industry. While waiting for the policy ecosystem to form, this year the government also focuses on carrying out several programs that contribute to reducing carbon emissions, such as the use of environmentally friendly fuels for coal power plants.

In addition to that, the government has also established bilateral cooperation with the UK and Germany for renewable energy funding. It is hoped that this collaboration can continue for the next few years.

IETD is an IESR and ICEF initiative

 

Institute for Essential Services Reform (IESR)

Jl. Tebet Barat Dalam VIII No. 20B, Jakarta Selatan

Indonesia

General Inquiry: icef@iesr.or.id

P. +62 21 - 22323069

©2020 by Indonesia Clean Energy Forum (ICEF) in association with IESR

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • LinkedIn